Sabtu, 27 Maret 2010

Goyang Gergaji M. Fachrudin


Muhammad Fachrudin (lahir di Sidoarjo, Jatim , 14 April 1982; umur 27 tahun) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia. Saat ini ia bermain untuk Arema Indonesia di Liga Super Indonesia. Sebelumnya ia memperkuat Persebaya Surabaya dan Persisam Samarinda masing-masing setengah musim di Divisi Utama 2008/2009. Ia biasa menempati posisi sebagai pemain Gelandang Serang, dan Striker.

Ia adalah pemain yang memiliki daya juang yang tinggi dalam bermain. Pemain yang memiliki selebrasi gol dengan goyang gergajinya tersebut mengaku merasa senang bermain di Arema Indonesia. Karena faktor suporternya yang fanatik dan dari materi pemain dan pelatih yang sama-sama profesional dalam tim dan dengan adanya M. Fachrudin mampu menambah daya gedor permainan Arema Indoneisa.

Robert Albert Sang Arsitek Permainan Arema


Robert Rene Alberts (lahir di Belanda, 14 November 1954; umur 55 tahun) adalah seorang pelatih sepak bola berkewarganegaraan Belanda. Dia adalah mantan pelatih klub Sarawak FA Malaysia. Pada 2007, dia juga pelatih tim Nasional Malaysia Bawah-19 dalam acara 2007 Champions Youth Cup yang juga disertai tim Europe bawah 19 seperti Chelsea dan Barcelona. Saat ini ia melatih tim Arema. Rene merupakan mantan pemain sepak bola saat aktif sebagai pemain Robert adalah alumnus akademi sepak bola Ajax Amsterdam Selain itu, Robert sempat merumput di klub Prancis, Amerika Serikat , dan Swedia. Karir kepelatihan Robert juga panjang. Pada 2002, Robert menjadi direktur kepelatihan di Korea Selatan. Dia juga menjabat pelatih kepala Timnas U-17 Korsel hingga 2004. Pada 2005-2008, Robert menjadi direktur teknik FAM (PSSI-nya Malaysia).

Pelatih Muda Kepala Hittraps IK Swedia
Pelatih Senior Kepala Hittraps IK Swedia
Pelatih Senior Kepala Astorps IK Swedia
Pelatih Senior Kedah FA Malaysia
Pelatih Senior Tanjong Pagar FC Singapura
Pelatih Senior Home United FC Singapura
Pelatih Kepala Timnas Korea Selatan U-17 (2004)
Pelatih Kepala Timnas Malaysia U-19 (2007)
Direktur Teknik Football Association of Malaysia (FAM) (2005-2008)
Pelatih Kepala Sarawak FA (2009)
Instruktur pada Kursus Kepelatihan Federasi Sepakbola Swedia (SvFF)
Instruktur pada Kursus Kepelatihan AFC Courses
Anggota Technical Study Group for Korean world Cup
Penanggung jawab Progam Pendidikan Kepelatihan Sepakbola Korea Football Federation (KFA)

Noh Alam Shah Sang "Super Along"


Noh Alam Shah (lahir di Singapura, 3 September 1980; umur 29 tahun) adalah pemain sepak bola berkebangsaan Singapura yang saat ini bermain sebagai penyerang pada klub sepak bola Arema Indonesia salah satu klub anggota Liga Super Indonesia. Ia bersama Muhammad Ridhuan di transfer dari klub Tampines Rovers untuk memperkuat Arema di musim kompetisi ISL 2009/2010. Di penampilan akhir sekaligus laga perpisahan bersama Tampines Rovers sebelum pindah ke Arema, ia mencetak gol hattrick saat lawan Sengkang Punggol.

Ia mengawali karier sebagai pemain profesional pada tahun 1998 bersama tim Sembawang Rangers lalu hijrah ke singapore Armed Force FC (SAFFC) kemudian kembali lagi ke tim semula. Pada tahun 2003 ia bergabung dengan tampines Rovers dan membantu memenangkan gelar liga dua tahun berturut-turut 2004 dan 2005.

Pada tahun 2007 ia tercatat sebagai pemain pertama yang mencetak 100 gol bagi klubnya setelah mencetak gol melawan Liaoning Guangyuan. Ketajaman Alam Shah sempat membuatnya mengikuti seleksi di Notts County Inggris dan Skonto Riga Latvia namun keduanya gagal karena masalah ijin kerja


Dalam pertandingan penyisihan grup Kejuaraan Sepak Bola ASEAN 2007 Alam Shah mencetak 7 gol dari total kemenangan 11-0 atas Laos. Ini tidak hanya rekor kemenangan besar Singapura, tapi juga rekor gol individu seorang pemain di pertandingan internasional untuk Singapura. Alam Shah akhirnya membawa Singapura mempertahankan gelar juara, dan ia meraih gelar pemain terbaik dan top skor dengan 10 gol.

Terakhir ia bertindak sebagai kapten tim dan mencetak gol dalam laga persahabatan melawan China pada 12 Agustus 2009 di ajang "National Day Challenge". pertandingan itu berakhir adu finalti dengan kekalahan 3-4 setelah 2x45 menit bermain imbang 1-1.

Alam Shah dikenal sebagai penyerang yang memiliki kekuatan fisik, tidak kenal lelah, unggul kecepatan, kuat dalam duel bola udara, dan striker oportunis dengan penyelesaian akhir sempurna. Dalam interview dengan The New Paper tahun 2006 (media lokal Singapura), Alam Shah mengaku temperamennya terbentuk saat terlibat dalam sebuah anggota gengster ketika masih kecil. Alam Shah memiliki julukan “Along” yang dalam Bahasa China dan Bahasa Melayu menjadi sebutan untuk “Kakak” atau “Pemimpin” dalam kelompok geng China (triad).

KSN 2010 di Malang

MALANG – Pelaksanaan Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Kota Malang 30-31 Maret terus dimatangkan. Kemarin, Menpora Andi Mallarangeng menggelar rapat KSN di kantornya.

Dalam pertemuan itu, hadir Sekjen PSSI Nugraha Besoes, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Ketua Umum KONI Rita Subowo, Komandan Pelatnas Asian Games Hendardji Supandji, dan Wali Kota Malang Peni Suparto.

Pertemuan itu memastikan Agum sebagai ketua panitia KSN dan Johar Arifin sebagai sekretaris. “Pak Agum terpilih secara aklamasi,” terang menpora. Sebelumnya, Agum sempat menolak menjadi ketua panitia KSN.

Agum bersedia menjadi ketua KSN karena merasa prihatin atas kondisi sepak bola Indonesia sekarang. Itu tidak terlepas dari buruknya prestasi Timnas Indonesia. Baik Timnas U-23 SEA Games yang tersisih di penyisihan maupun timnas senior yang kandas di Pra-Piala Asia. “Saya menerima mandat dari menpora ini sebagai sebuah penghormatan,” kata mantan ketua umum PSSI itu lalu menambahkan, panitia akan menyebar 300 hingga 500 undangan.

Wali Kota Malang Peni Suparto mengatakan siap menjadi tuan rumah KSN. Rencananya, KSN dibuka di Stadion Gajayana. Sedangkan kongres berlangsung di Hotel Santika.

Rencananya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menghadiri acara ini. Bahkan, SBY diagendakan menonton pertandingan Arema versus Persitara di Stadion Kanjuruhan, 31 Maret. “Intinya, kami siap menyukseskan acara kongres,” kata Peni.

Wakil Gubernur Jatim Syaifullah Yusuf menambahkan, dalam KSN juga disisipkan berbagai acara. Mulai jalan sehat, sepeda gembira, hingga pawai damai suporter. “Intinya, semua acara ini tujuannya untuk memajukan persepakbolaan Indonesia,” tandas wakil ketua panitia KSN tersebut

Minggu, 21 Maret 2010

SBY Nonton Pertandingan Arema


Bola.net - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dijadwalkan menyaksikann laga Liga Super antara Arema Indonesia melawan Persitara Jakarta Utara pada 30 Maret 2010 di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jatim.

"Kami sudah mendapatkan kepastian jadwal Presiden SBY untuk membuka KSN di GOR Ken Arok dan sorenya langsung menuju Stadion Kanjuruhan Kepanjen untuk menyaksikan pertandingan Arema Indonesia dengan Persitara," ucap panitia lokal Kongres Sepak bola Nasional (KSN), Peni Suparto, Kamis.


Menyinggung persiapan Kota Malang yang ditunjuk sebagai tuan rumah KSN akhir Maret mendatang, Peni yang juga Ketua Umum Persema Malang itu mengatakan, sarana dan prasarana sudah disiapkan secara matang, termasuk penginapan bagi seluruh peserta.


Menurut Wali Kota Malang ini, ada tiga hotel yang digandeng untuk penginapan sekitar 400 orang peserta KSN dari seluruh Indonesia. Namun, untuk lokasi penyelenggaraan KSN yang jadwalkan selama dua hari (30-31/3) berlangsung di Hotel Santika.


Selain di Kota Malang, katanya, ada alternatif Presiden SBY menginap di Batu. "Itu baru alternatif, dan masih belum pasti," ujarnya.


Ide diselenggarakannya KSN di Malang itu berawal dari keprihatinan Presiden SBY terkait prestasi persepakbolaan nasional yang semakin lama semakin hancur, bahkan di kawasan ASEAN saja Indonesia tidak mampu bicara banyak.


Dipilihnya Malang sebagai tuan rumah, di antaranya prestasi Kota Malang yang mampu mengantarkan dua tim profesionalnya berlaga di ajang LSI 2009/2010 serta keberadaan suporter dari dua tim tersebut, terutama kiprah Aremania (suporter Arema) yang pernah menyandang gelar suporter terbaik Indonesia. (ant/row)

Selasa, 01 Desember 2009

Markus Horison jadi Mualalf


Markus Horison punya nama baru. Kini namanya berganti Markus Haris Maulana. Nama kiper timnas itu berubah setelah menjadi mualaf. Nama baru Markus itulah yang nanti didaftarkan Arema Malang kepada PT Liga Indonesia. ”Ya, kami akan mendaftarkan nama Markus Haris Maulana,” ucap media officer Arema Sudarmaji.

Markus sudah bergabung mengikuti latihan Arema di Stadion Gajayana Malang kemarin (11/9). Kehadiran mantan kiper PSMS Medan itu menjadi daya tarik sendiri bagi Aremania. Dia dieluk-elukan Aremania ketika berhasil menangkap atau menepis bola tendangan rekan-rekannya. ”Fanatisme Aremania menjadi penyemangat,” kata Markus.

Di hari yang sama, Robert Alberts juga resmi meneken kontrak sebagai pelatih Arema. Pria asal Belanda itu itu dikontrak selama satu musim. ”’Satu minggu ini saya membantu Arema. Tetapi hari ini (kemarin, Red) saya resmi menjadi pelatih Arema,” kata Robert usai penandatanganan kontrak di kantor Arema kemarin.

Robert mengaku proses membentuk Arema menjadi sebuah tim yang solid tidaklah mudah. Hal itu tak lepas dari banyaknya pemain muda miskin pengalaman yang ada di skuad Singo Edan - julukan Arema - sekarang. Dari 14 pemain lokal yang sudah direkrut, Robert menilai hanya ada enam yang memiliki pengalaman.

Sabtu, 21 November 2009

Pemain ke 12 Arema?


Bagi yang belum mengenal Yuli Sumpil, tokoh dalam The Conductors, film dokumenter teranyar karya Andi Bachtiar Yusuf. Berikut ini adalah tulisan Antariksa yang ada di aremania.web.id yang mudah-mudahan bisa memberikan informasi tentang sosok dan keseharian Yuli Sumpil.

The Conductors berusaha untuk mengungkap sisi lain dari Addie MS (Twilite Orchestra), AG Sudibyo (Paduan Suara Mahasiswa UI) dan Yuli “Sumpil” (Aremania), menampilkan kiat dan semangat dari anak manusia yang sangat mencintai profesinya tersebut. Film yang telah diputar pada ajang Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2007 lalu tersebut merupakan karya dokumenter kedua pria yang lebih akrab dipanggil “Ucup” setelah The Jak (2007). Dan setelah premiere di Jakarta, akan diputar di Bandung, Malang, Semarang, Yogyakarta, Jember, Purwokerto, Pusan (Korea Selatan).

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,”

Laki-laki muda itu sudah menjadi suporter fanatik klub sepakbola kotanya sejak masih anak-anak. Ia lahir dan tinggal di Malang, Jawa Timur, dan klub sepakbola itu bernama Arema (Arek Malang). Yuli Sugianto adalah salah satu suporter paling populer di kalangan Aremania, sebutan bagi suporter Arema. Bersama suporter Persebaya (Persatuan Sepakbola Surabaya) yang disebut Bonek (bandha nekat, modal nekat), Aremania terkenal sebagai suporter paling fanatik dalam sejarah sepakbola Indonesia.

Yuli berkisah sudah sejak anak-anak ia selalu berusaha melakukan apa saja demi menonton pertandingan Arema. Semasa duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) misalnya, jika tak ingin terlambat datang ke stadion, ia harus membolos sekolah sore. Dan jika pertandingan berlangsung di luar kota, itu berarti ia harus siap sejak pagi, bersiap menunggu di pinggir jalan raya, dan siap melompat ke dalam bak truk atau mobil angkutan barang lain untuk menuju kota tujuan.

Sekarang Yuli adalah dirigen Aremania. Seorang dirigen, layaknya seorang konduktor dalam pertunjukan orkestra, adalah orang yang memimpin para suporter untuk menyanyi dan menari dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seorang dirigen menentukan lagu mana yang harus dinyanyikan dan gerakan tubuh macam apa yang mesti dilakukan. Aremania punya dua dirigen. Selain Yuli juga ada Yosep, yang biasa dipanggil Kepet.

Di kalangan Aremania, dirigen dipilih dengan cara yang tidak terlalu rumit. Tidak ada pemungutan sura yang berlangsung dengan ketat. Seseorang dipilih menjadi dirigen karena penampilan fisiknya yang menarik (ceria, nyentrik, dll.), kemampuannya berkomunikasi dengan suporter lain, dan kemampuannya membangkitkan semangat suporter untuk terus memotivasi tim yang didukungnya. Oleh sejumlah suporter seorang dirigen ditunjuk dengan cara yang sulit dijelaskan, hampir kebetulan saja, sebelum sebuah pertandingan sepakbola dimainkan. Tetapi begitu seorang dirigen terpilih, jabatan itu akan disandangnya terus, tanpa batas waktu yang jelas, sampai ia mengundurkan diri atau kehilangan kemampuan untuk memimpin. Begitulah, tujuh tahun lalu dan Kepet terpilih begitu saja sebagai dirigen Aremania. Dan hanya kepada mereka berdualah 30 ribuan Aremania mau tunduk. “Mungkin saya dipilih karena berambut gondrong dan suka menari sambil memanjat pagar pembatas lapangan. Kalau Kepet mungkin karena ia punya banyak teman. Ia kan tinggal dekat stadion,” kata Yuli.

Di Stadion Gajayana Malang, markas Arema, Yuli dan Kepet mesti berbagi wilayah kekuasaan. Wilayah kekuasaan Yuli adalah tribun bagian timur, tepat di bawah papan skor. Wilayah Kepet adalah tribun bagian selatan. Sementara tribun VIP dibiarkan tanpa dirigen.

Pertandingan sepakbola biasanya dimulai jam 4 sore, tetapi para suporter sudah memadati stadion sejak 2 jam sebelumnya. Mereka memainkan genderang, terompet, menyanyi, menari dan menyulut kembang api dan petasan. Sebelum dirigen datang, atraksi-atraksi ini berlangsung sporadis, dalam kelompok-kelompok kecil, dan tidak kompak. Tetapi begitu mereka melihat kedatangan Yuli dan Kepet, secara otomatis semuanya akan bertepuk tangan dan bertempik-sorak seperti menyambut kedatangan presiden mereka. Yuli dan Kepet tersenyum, dan begitu mereka melambaikan tangan, ribuan suporter ini menjadi lebih tenang. Semua musik, lagu, dan tarian dihentikan. Yuli dan Kepet akan segera menaiki singgasana mereka, yaitu pagar besi pembatas lapangan setinggi 2 meter. Mereka mulai menjalankan tugasnya; sambil berdiri di atas pagar menghadap ke tribun penonton mereka menggerakkan tangan dan kaki, memiringkan dan memutar tubuhnya ke kiri, kanan, depan, dan belakang sebagai alat untuk memberi aba-aba. Ribuan penonton menjadi kompak dan memainkan musik, menyanyi, dan menari. Semuanya mengikuti aba-aba dan contoh gerakan yang dilakukan Yuli dan Kepet.

Sepuluh menit sebelum pertandingan dimulai, Yuli dan Kepet memberi aba-aba berhenti. Kalau mereka sudah menaikkan tangan kanan ke atas, itu artinya tarian akan berhenti dan para suporter akan segera menyanyikan lagu Padamu Negeri.[1] Para pemain memasuki lapangan, wasit meniup peluit, pertandingan segera dimulai, tarian dan lagu dimainkan kembali. Karena atraksi-atraksinya yang menarik, Arema pernah memenangi penghargaan suporter terbaik dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI).

Satu-satunya kelompok suporter besar yang tetap tinggal “liar” adalah Aremania. Klub dan Pemda tidak memberi bantuan dana atau berkeinginan membuat organisasi formal untuk suporter. Para suporter tetap membuat kelompoknya sendiri dengan keinginan mereka sendiri, kelompok-kelompok ini mereka sebut dengan Korwil (Koordinator Wiyalah). Di Malang sekarang ini sekurang-kurangnya ada 125 Korwil Aremania. Tiap Korwil punya seorang ketua yang hanya bertugas mengumpulkan suporter di wilayahnya menjelang Arema bertanding. “Tidak perlu organisasi-organisasian. Kalau ada organisasi itu repot, nanti malah diatur-atur, disuruh begini, disuruh begitu, bayar ini, bayar itu. Apalagi kalau sampai dikait-kaitkan sama partai politik segala,” kata Ponidi—dikenal sebagai Tembel—Ketua Korwil Stasiun. Meski tiap Korwil punya ciri khas sendiri, yang ditandai dengan bendera, spanduk, seragam, dan dandanannya, komando di stadion tetap ada di tangan dirigen. Hanya Yuli dan Kepet yang mampu mengatur dan menenangkan merea. “Pengurus klub atau walikota sekalipun tidak akan bisa ada artinya bagi suporter. Dia tak akan mampu mengatur 30 ribu orang. Tapi begitu Yuli atau Kepet yang ngomong, ya semuanya manut,” jelas Tembel.

Yuli adalah pemuda dari keluarga miskin yang tinggal di sebuah kampung di bagian timur Malang. Sebelum menjadi dirigen Aremania, sejak lulus dari sebuah Madarasah Aliyah, Yuli bekerja sebagai pencuci mikrolet—angkutan umum dalam kota. Ia biasa bekerja dari jam 4 sore hingga jam 12 malam, dari pekerjaannya, dalam sehari Yuli bisa memeroleh 10 ribu hingga 15 ribu rupiah.

Sejak menjadi dirigen, Yuli praktis berhenti bekerja. Menurutnya pilihan ini adalah saran orangtuanya yang tak tahan melihat Yuli menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengurusi sepakbola, sepakbola, dan sepakbola. Ia kini menggantungkan hidupnya pada orangtuanya. Bapaknya, Asip, bekerja sebagai tukang kayu panggilan. Semenntara ibunya, Juwariyah, mendapatkan uang dengan menjual makanan rumahan bikinannya ke warung-warung di sekitar kampungnya. Yuli mengatakan setiap hari mendapat uang saku antara 500 hingga 2000 rupiah dari bapak atau ibunya. “Yul, ini ada sedikit uang untuk beli rokok,” kata Yuli menirukan ibunya.

Jika Liga sedang berjalan—yang berarti setiap minggu hampir selalu saja ada pertandingan sepakbola—Yuli harus menyisihkan sedikit jatah uang rokoknya agar bisa membeli tikat dan masuk stadion. Tetapi kalau kondisi keuangan keluarganya yang benar-benar sulit, Yuli kadang terpaksa menjual asesoris-asesoris suporternya untuk bisa membeli tiket. Tak jarang ia harus merelakan kaus atau syal kesayangannya dengan harga 10 hingga 20 ribu rupiah. “Sebenarnya sedih juga, karena barang-barang itu punya nilai sejarah bagi saya. Tapi saya akan lebih sedih lagi kalau tidak bisa masuk ke stadion dan menjadi dirigen bagi teman-teman,” katanya. Kadang-kadang Yuli juga membantu menjual tiket pertandingan. Beberapa hari sebelum pertandingan Yuli akan mengambil tiket di Mess Arema. Untuk tiap tiket seharga 10 ribu rupiah bisa dijualnya ia mendapat bagian 10 persen atau seribu rupiah. Agar bisa nonton pertandingan sekurang-kurangnya Yuli harus bisa menjual 10 tiket.

Seperti kebanyakan pemuda kota yang tinggal di kampung padat dan miskin, Yuli gemar sepakbola dan sering terlibat tawuran (perkelahian massal) antarkampung. “Buat saya dulu tawuran adalah bagian dari sepakbola. Sepakbola nggak ada tawuran seperti sepakbola banci,” kata Yuli. Ia kemudian bercerita, beberapa tahun lalu—sebelum menjadi dirigen—bersama 30 temannya ia datang ke Jakarta untuk melihat Arema bertanding. Ia berangkat dari rumah dengan sudah menyiapkan sebilah pedang. “Waktu itu, ini perlengkapan standar,” katanya. Di Jakarta ia terlibat bentrokan dengan kelompok Bonek di depan Stasiun Pasar Senen. Mula-mula hanya saling melempar batu, tapi kemudian menjadi saling kejar, memukul dengan potongan kayu atau besi, bahkan hingga sabetan pedang. “Yang saya ingat, keesokan harinya saya baca di koran ternyata ada 3 orang Bonek yang mati. Sementara kami semua selamat,” katanya.

Yuli kini ingin melupakan masa lalunya. Di ruang tamu rumahnya yang sempit, ia memasang fotonya ketika bersalaman dengan Ketua PSSI Agum Gumelar. Di foto itu, Yuli—berambut gondrong dan berkaus Arema warna biru—tampak tersenyum bangga. Katanya, “Saya diundang di acara pembukaan Liga Indonesia dan dikirimi tiket pesawat untuk hadir mewakili suporter”.

Karena tak bekerja, sehari-hari Yuli menghabiskan waktunya dengan nongkrong sja. Saya ingat waktu bertemu dengannya pertama kali tiga tahun lalu, ia tengah nongkrong di Salon Cimenk yang terletak beberapa ratus meter saja dari rumahnya. Didik, pemilik salon ini, adalah teman Yuli sesama Aremania. Ketika saya datang rupanya mereka sedang membicarakan rencana menjahit pakaian dirigen baru buat Yuli. Untuk urusan dandanan Yuli mengaku memang sering dibantu Didik. Sekali mencat rambut ia cuma akan membayar 10 atau 20 ribu. Tapi Yuli lebih sering tak membayar, karena ia memang jarang punya cukup uang. Suatu ketika karena merasa sungkan dan terlalu sering tidak membayar, sebelum berangkat ke stadion Yuli pernah mencat saja rambut gondrongnya dengan cat kayu, warna biru. Jelasnya, “Agar mudah membersihkannya, saya lumuri dulu rambut saya dengan minyak goreng, setelah itu baru saya cat. Saya ingin selalu bisa menarik perhatian di lapangan.”

Yuli punya cukup banyak koleksi asesoris Aremania. Dengan bersemangat ia menunjukkan koleksi kaus dan pakaian dirigennya pada saya. Yuli punya macam-macam kaus Arema, dari kaus seperti yang dipakai para pemain—warna biru putih—sampai kaus-kaus bergambar kepala singa, lambang Arema, yang memang punya julukan sebagai tim Singo Edan (singa gila). Kebanyakan kaus macam ini bertuliskan “Kera Ngalam” atau “Ongis Nade”. Keduanya adalah bahasa slang Malang yang berarti “Arek Malang” dan “Singo Edan”.

“Saya biasanya pakai kaus Arema, tapi bawahannya bisa ganti-ganti, yang penting warna dan modelnya menyolok mata. Seorang teman suporter pernah memberi saya pakaian Skotlandia,” kata Yuli sembari mengeluarkan pakaian bermotif kotak-kotak khas skotlandia dari lemarinya. Sebentar kemudian ia mengeluarkan lagi beberapa pakaian, dari yang berbahan kulit sintetis hingga kain sarung dan kain perca. Hampir semua pakaian ini dirancang sendiri oleh Yuli. Biasanya ia mendapat ide model-model pakaian baru setelah menonton pertandingan sepakbola Liga Italia atau Inggris di televisi.

Saya membuka-buka koleksi foto Yuli. Ia memberikan penjelasan detil untuk tiap foto yang saya lihat. Ketika saya sampai pada sebuh foto yang memerlihatkan sepasang lelaki dan perempuan berbaju pengantin, sementara di sekelilingnya adalah laki-laki dan peremuan yang semuanya berkaos biru Arema, Yuli menjelaskan bahwa itu adalah acara pernikahan seorang Aremania. Ia malah menceritakan tentang seorang Aremania lain yang naik haji ke Mekkah dengan membawa syal dan bendera Arema.

Kamar Yuli kecil saja, 3 kali 3 meter. Dindingnya dicat biru, dipenuhi poster dan macam-macam hiasan dinding yang berbau Arema. Sebuah poster paling besar, kira-kira berukuran 1 kali 1,5 meter, dibuat dengan teknik cetak yang baik, memerlihatkan gambar kepala singa, foto tim Arema, dan ribuan suporter Arema. Bagian bawah poster itu bertuliskan “Di saat prestasi bangsa Indonesia sedang terpuruk, bumi pertiwi bersimbah darah, nusantara sedang tercabik, Aremania melalui panggung sepakbola telah membuat jutaan pasang mata di layar kaca terkagum oleh sportivitas,” kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berbahasa Inggris, “Aremania, pride of the city, friendship without frontier, footbal without violence, the incorporable suporter, the incredible Malangese”.

Di kamar ini Yuli mengarang tarian dan lagu-lagu buat Aremania. Sebenarnya ia tak benar benar-benar mengarang, ia hanya memodifikasi saja syair lagu-lagu yang sudah ada, sementara nada dan iramanya tetap dipertahankan. Sumbernya bisa datang dari mana saja. Bisa lagu-lagu tentara Indonesia, lagu pop, lagu anak-anak, lagu pramuka, lagu selamat ulang tahun, sampai lagu suporter Juventus, suporter kesebelasan Cili, atau lagu marinir Amerika yang dilihatnya di film atau televisi. Yuli hafal di luar kepala semua lagu yang berjumlah 30-an itu. Untuk tarian, Yuli mengaku sekenanya saja. Prinsipnya adalah ia harus bisa membuat gerakan tubuh yang mudah ditirukan dan dingat orang lain. Menurut Yuli, seringkali para suporter juga memberikan usulan tarian dan lagu baru beberapa saat sebelum sebuah pertandingan dimulai.

Kini orang ramai berdatangan ke Stadion Gajayana. Mereka datang bukan hanya untuk sepakbola, tetapi juga untuk melihat bagaimana Aremania menyanyi dan menari. Dulu menonton sepakbola di Gajayana hanyalah monopoli orang-orang pribumi laki-laki, tapi kini perempuan dan orang-orang keturunan Cina juga datang menonton ke stadion. Hampir-hampir tak ada lagi kerusuhan dan perkelahian.

“Cita-cita saya, pagar besi pembatas tribun dengan lapangan nanti tidak perlu ada lagi. Jadi kita menonton sepakbola dengan enak, tidak ada perkelahian, tidak ada suporter yang mengganggu pemain. Saya juga ingin semua golongan bisa bersatu di sini. Kaya atau miiskin, laki-laki atau perempuan, Cina atau bukan Cina, pejabat atau orang biasa, Islam atau Kristen, di sini semuanya bisa sama,” kata Yuli.